Obligasi Bunga Tinggi Tetap Menjadi Sumber Pendanaan yang Layak bagi Perusahaan Indonesia

Meskipun terjadi gejolak baru-baru ini di pasar obligasi dengan imbal hasil tinggi, mereka tetap menjadi sumber pendanaan yang layak bagi perusahaan-perusahaan Indonesia dalam jangka pendek hingga menengah. Korporasi Indonesia beralih ke pasar obligasi untuk mendiversifikasi sumber pendanaan mereka dan terutama karena pengetatan moneter yang sedang berlangsung di negara tersebut yang akan menaikkan suku bunga pinjaman bank. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2011 sebesar 25bps menjadi 6,0% pada 14-Jun-2013. Itu juga menaikkan suku bunga fasilitas deposito semalam (FASBI) sebesar 25bps menjadi 4,25% efektif 12-Jun-2013. Pengetatan lebih lanjut suku bunga dan suku bunga FASBI oleh Bank Indonesia diharapkan dalam beberapa bulan mendatang dapat mendinginkan ekspektasi inflasi yang meningkat dan menstabilkan nilai tukar mata uang lokal.

Bank-bank Indonesia secara historis terkenal mengenakan suku bunga yang lebih tinggi daripada bank-bank sejenis di Asia Tenggara. Oleh karena itu, menerbitkan obligasi menjadi pilihan yang baik untuk pembiayaan korporasi di dalam negeri karena memiliki harga yang stabil dan tetap. Pembiayaan obligasi membantu mereka mempertahankan dan menstabilkan arus kas mereka dalam jangka panjang.

Dengan meningkatnya minat terhadap risiko Indonesia, diharapkan perusahaan Indonesia juga memiliki potensi yang lebih besar untuk mengakuisisi aset di luar negeri, yang didukung oleh pendanaan pasar modal internasional. Penerbitan obligasi global akan menjadi cara yang baik untuk membangun nama dan kredibilitas mereka di pasar modal internasional bagi perusahaan-perusahaan Indonesia, yang dikenal anonimitas di panggung global. Salah satu kelemahan utama dari penerbitan obligasi global untuk perusahaan Indonesia adalah ukuran penerbitan obligasi ekonomi kreatif indonesia .

Umumnya mereka diharuskan mengeluarkan dana dalam jumlah besar melalui obligasi global dan menggunakannya secara bertahap, meningkatkan keseluruhan biaya pinjaman efektif mereka. Oleh karena itu, perusahaan lebih suka menggunakan pinjaman bank untuk ekspansi jangka pendek, sementara menerbitkan obligasi untuk mendanai proyek jangka panjang.

Harga obligasi korporasi Indonesia yang berimbal hasil tinggi telah menurun drastis selama dua bulan terakhir sebagai akibat dari bias pengetatan global dan keluarnya dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Tren ini sejalan dengan kinerja obligasi negara berkembang lainnya, seiring dengan perpindahan dana investor global dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, setelah Fed menunjukkan stabilitas perekonomian AS dan secara bertahap menarik kembali stimulus moneter.

Tekanan likuiditas China saat ini memberi tekanan pada sektor perbankannya, meningkatkan risiko perlambatan tajam dalam ekonomi mereka. Selain itu, ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menghantui sentimen investor. Bank Dunia merevisi perkiraan PDB untuk Indonesia menjadi 5,9% vs. 6,2% target yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia sedang melakukan segala cara untuk menenangkan inflasi, memulihkan ekspektasi pertumbuhan ke tingkat di atas 6%, dan memenangkan kembali kepercayaan investor. Setelah krisis Asia 15 tahun lalu, Indonesia telah tumbuh dengan mantap yang didukung oleh stabilitas politik dan kebijakan ekonomi dan keuangan yang sehat.

Baca Juga : Yang Harus Anda Lakukan Untuk Menjual Rumah Anda Di Pasar Bawah

Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut dan mendukung pasar modal negara di masa mendatang. Setelah volatilitas pasar yang sedang berlangsung mereda dan reaksi investor berlebihan, kondisi pasar diperkirakan akan meningkat secara signifikan untuk penerbit obligasi hasil tinggi di Indonesia. Untuk lebih jelasnya, lihat artikel penelitian yang diterbitkan di situs web Penelitian Kredit Pasar SJS.

Chirag Sharma adalah Konsultan Pemasaran Digital di grup SJ Seymour yang berkantor pusat di Hong Kong. SJS Markets menyediakan riset, konsultasi, layanan eksekusi, dan solusi manajemen kekayaan pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close